Berita Terkini

Ayo Ikut BKB.
16-06-2017 12:13

Bina Keluarga Balita merupakan kegiatan meningkatkan tumbuh kembang balita yang sehat dan cerdas.

 

 

 

Saat ini di TV sedang sering diputar iklan yang dibintangi oleh artis Tessa Kaunang. Dalam iklan tersebut, Tessa memerankan seorang ibu yang memiliki anak yang berada dalam fase pertumbuhan. Kemudian Tessa mengajak para ibu untuk ikut BKB (Bina Keluarga Balita).

Berangkat dari iklan tersebut, saya jadi ada keinginan untuk menuliskan kembali mengenai BKB. Sebelumnya saya pernah menuliskan tentang BKB di sini,  juga mengenai aspek-aspek tumbuh kembang balita yang biasanya menjadi materi ajar BKB di link ini.  Nah, menyusul beberapa tulisan tadi, saya coba menuliskan kembali berdasarkan referensi yang saya punya. Sebagai informasi, saya mengambil referensi dari buku berjudul “Pengasuhan dan Pembinaan Tumbuh Kembang Anak” terbitan direkotrat pengembangan dan ketahanan keluarga – BKKBN tahun 2010.

Seperti yang diketahui bahwa usia balita merupakan periode paling kritis dalam menentukan kualitas sumber daya manusia. Menurut para ahli, masa balita ini sering disebut juga dengan periode keemasan atau golden age. Pada periode inilah diperlukan pengetahuan dari orang tua mengenai perkembangan anak-anaknya. Pola tumbuh kembang anak bisa dipantau dengan membaca tulisan saya di link ini. Silahkan klik saja.

BKKBN sebagai lembaga yang concern dengan pembangunan keluarga Indonesia mempunyai program yang saat ini memang sedang gencar dikampanyekan baik melalui media televisi maupun radio. Program tersebut bernama BKB atau Bina Keluarga Balita. Program ini memiliki tujuan yang mulia yaitu meningkatkan peran orangtua (ayah dan ibu) serta anggota keluarga lainnya dalam pembinaan tumbuh kembang anak balita sesuai dengan usia dan tahap perkembangan yang harus dimiliki baik dalam aspek fisik, kecerdasan, emosional, maupun social agar dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang maju mandiri dan berkualitas (Sumber: Buku BKB-BKKBN; hal.1).

 

Pada tataran teknis, program BKB ini teraplikasikan dalam kelompok BKB. Pada setiap kelompok BKB ada beberapa orang kader yang berperan dalam memberikan pembinaan dan penyuluhan kepada orangtua tentang bagaimana cara merawat dan mengasuh anak dengan baik. Dalam satu kelompok BKB dibagi menjadi beberapa kelompok umur. Dan idealnya setiap kelompok umur itu mempunyai 2-3 orang kader. Kader-kader tersebut berbagi peran sebagai:

-          Kader inti yaitu kader yang bertugas sebagai penyuluh untuk menyampaikan materi kepada orang tua dan yang bertanggung jawab atas jalannya penyuluhan.

-          Kader piket bertugas mengasuh anak balita yang ikut orangtuanya ke tempat penyuluhan,

-          Kader bantu yang bertugas membantu kader inti atau kader piket.

Berdasarkan pengalaman saya di lapangan, biasanya kelompok kegiatan BKB ini terintegrasi dengan kegiatan posyandu. Jadi ketika kegiatan Posyandu berlangsung, kegiatan BKB juga akan berjalan. Jadi di posyandu tidak hanya kegiatan penimbangan dan pemberian makanan tambahan saja, tapi juga ada pemberian penyuluhan mengenai aspek tumbuh kembang anak yang merupakan materi pokok kegiatan BKB. Selain di posyandu, kegiatan BKB ini juga dapat berintegrasi dengan kegiatan PAUD. Jadi ketika anak-anak belajar di PAUD, para orang tua dapat berkumpul dan belajar mengenai pola asuh anak di kelompok BKB.

Program BKB ini berbeda dengan program lainnya, semisal PAUD. Apabila PAUD dititik beratkan pada pengajaran anak balita, maka BKB ini lebih fokus kepada ‘pengajaran’ para orang tua mengenai aspek-aspek tumbuh kembang balita. Program ini menitik beratkan kepada orang tua sebagai subjek peserta programnya, dimana orang tua diharapkan akan pandai mengurus dan merawat anak, pandai membagi waktu dalam mengasuh anak, dan memiliki wawasan luas mengenai pola asuh anak. Aspek mengenai tumbuh kembang balita, bisa dibaca di sini. Namun, kedua program pemerintah ini dapat berintegrasi satu sama lain.

Menurut salah satu karyawan Kantor Perwakilan BKKBN Provinsi Jawa Barat, ibu Ekawati Agustiana, S.Sos, idealnya kelompok BKB itu berjalan tersendiri karena kegiatan kelompok BKB lebih banyak mengenai konseling tumbuh kembang balita, sehingga harus fokus. Mbak Ana, Panggilan akrab Ibu Ekawati Agustiana, menuturkan bahwa saat ini Provinsi Jawa Barat sudah memiliki sebuah pusat pelayanan keluarga untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang membutuhkan informasi seputar keluarga.

“Saat ini sudah ada PPKS, yaitu Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera.” Urai mbak Ana.

“Di Jawa Barat, informasi mengenai program BKB ini dapat diperoleh di Pusat Pelayanan Keluarga Sejahtera (PPKS) yang beralamat di Jalan Rancagoong Raya No.1 Bandung. Selain itu, informasinya bisa juga diperdengarkan melalui beberapa radio swasta yang bekerja sama dengan perwakilan BKKBN Jawa Barat, diantaranya radio Dahlia FM (setiap selasa dan kamis jam 12-13.00), radio PRFM (Setiap rabu jam 15.00-16.00).” tambah Mbak Ana.

Setiap orang tua yang menjadi anggota kelompok BKB diharapkan memiliki satu kartu pemantau tumbuh kembang anak bernama KKA atau Kartu Kembang Anak. KKA ini berfungsi seperti KMS-nya Posyandu. Ibu-ibu yang sering ke posyandu pasti tahu dong apa itu KMS? KMS Kartu Menuju Sehat, dimana di dalamnya terdapat grafik pertumbuhan bayi dari nol sampai lima tahun. Demikian pula dengan KKA, pada KKA tersebut terdapat grafik yang menunjukan perkembangan perilaku balita anda.

Tidak seperti KMS, KKA ini berfungsi sebagai pemantau perkembangan kemampuan anak.  KKA ini digunakan untuk memantau kegiatan asuh orang tua dan tumbuh kembang anak. Bagi para orang tua, KKA ini bermanfaat sebagai media untuk memantau tumbuh kembang anak, sejauh mana perkembangan kemampuan anaknya sesuai dengan usia sang anak.

Mengenai tatacara pengisian KKA, biasanya para kader kelompok BKB sudah terampil dan mahir mengisinya.

Jadi, seperti kata Tessa Kaunang, Ayo Ikut BKB. (HS)

sumber : http://tentangkb.wordpress.com/